Monday, October 27, 2014

resensi film favoritku

21 & 22 JUMP STREET


     21 Jump Street adalah film tentang 2 laki laki bernama, Jenko ( Channing Tatum ) dan Schmidt ( Jonah Hill ) yang sempat bermusuhan di sekolahnya.
Jenko adalah orang yang pintar dalam hal non-akademik dan Schmidt pintar dalam hal akademik. Karena Jenko menyadari kekurangannya, Jenko ingin berteman dengan Schmidt agar bisa pintar dalam akademik, dan sebaliknya.

     Setelah mereka selesai kuliah bersama, mereka mendaftarkan diri untuk bekerja sebagai polisi / cops. Mereka berfikir pekerjaan itu menyenangkan dan seru. Tapi, mereka malah menjadi polisi yang menggunakan sepeda. 

    Di taman, mereka menemukan geng yang ternyata menggunakan narkoba dan berhasil menangkap hanya 1 orang, itu pun dengan cara yang memalukan.
Karena cara mereka menangkap orang itu, akhirnya mereka dipindahkan ke kantor polisi yang ada di 21 Jump Street. Di situ, mereka ditugaskan untuk menyamar menjadi murid SMA lagi. Misi mereka adalah untuk mencari orang yang menjual narkoba. Dengan kerja keras, mereka akhirnya menemukan penjualnya dan yang penyebarnya sekaligus.

     22 Jump Street adalah lanjutan dari 21 Jump Street. Setelah sukses menyamar sebagai anak SMA dan membongkar sindikat narkoba, dua polisi: Schmidt & Jenko kembali ditugaskan untuk menyusup ke universitas. Mereka diminta melakukan “tepat sama” seperti misi sukses sebelumnya, demi keberlangsungan program “jump street” yang mulai kehabisan dana karena usaha-usaha gagal mereka. Selain karier mereka, persahabatan Schmidt-Jenko juga diuji dalam 22 Jump Street ini. Ketika Jenko yang lebih populer mendapatkan kesempatan untuk melepas karier dari kepolisian; sementara Schmidt dirasa hanya menjadi beban bagi Jenko.
     Sutradara Phil Lord & Christopher Miller memang berhasil menyajikan hiburan yang mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Apalagi chemistry Jonah Hill dengan Channing Tatum sangat cocok dan terlihat natural. Hanya dengan melihat raut muka Hill-Tatum saja, kita sudah bisa ikut geli sendiri. Tetapi memang humor yang ada cenderung konyol, bukan jenis humor yang cerdas. Humor dan dialog konyol mendominasi sepanjang film, yang menyebabkan penonton jadi masa bodoh dengan cerita utamanya: siapa pengedar narkoba? Ketika teka-teki tentang pengedar narkoba mulai terbuka, penonton sudah tidak peduli dengan cerita tentang narkoba ini. Mereka  lebih terbuai dengan cerita persahabatan kocak antara Schmidt dan Jenko. Aura maskulin dalam film ini cukup kencang, karena selain kisah cinta Schmidt dengan Maya (Amber Stevens), nyaris tidak ada tokoh wanita menarik lainnya. Jelas bukan film yang menarik ditonton oleh kaum pria normal.
     Banyak orang berharap film Jump Street tidak berhenti di 22 saja. Semoga masih ada lanjutannya dan menjadi semakin kocak. Dari film ini, banyak moral yang bisa diambil. Salah satunya adalah persahabatan. Dalam film ini, dijelaskan kalau semua orang mempunyai sahabat sejati. Kita tidak boleh egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita juga bisa belajar, kalau sahabat bukan berarti kita harus mengikutinya kemanapun sahabat kita pergi. Sahabat bukan berarti tidak boleh mempunyai teman yang lain. Karena sahabat melengkapi sesama.